03 Desember 2022
Bacaan Hari ini:
Matius 7:12 “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Ada banyak cara untuk meraih rasa hormat dari orang lain selama konflik. Kemarin kita melihat tiga cara: Berhenti sejenak sebelum berbicara, selesaikan konflik secara pribadi, dan bantu orang lain untuk melakukan yang terbaik.
Namun hal pertama yang harus Anda lakukan ialah berikut: Berempati terhadap perasaan orang lain. Jika Anda ingin orang lain menghormati Anda, maka Anda harus menghormati perasaan mereka. Apa yang Anda tabur, itu yang akan Anda tuai. Alkitab berkata, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”
(Matius 7:12).
Hal ini sangat tepat, terutama bagi seseorang yang berduka, takut, atau merasakan ketidakadilan. Orang-orang ingin tahu apakah Anda paham apa yang sedang mereka alami. Mereka tidak peduli apa yang Anda ketahui tentang mereka, hingga mereka tahu bahwa Anda peduli.
Akan tetapi, Anda tidak harus sepakat dengan seseorang untuk dapat berempati dengan perasaan mereka. Saat Anda melihat orang lain protes, misalnya, Anda mungkin tidak setuju dengan kesimpulan mereka, tetapi Anda bisa mencoba memahami mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan.
Ketika berhadapan dengan konflik, hal pertama yang Nehemia lakukan adalah: "Maka sangat marahlah aku, ketika kudengar keluhan mereka dan berita-berita itu”
(Nehemia 5:6).
Nehemia tidak mengatakan hanya marah, melainkan dia sangat sangat marah.
Apa yang Nehemia lakukan? Dia ikut merasakan suasana hati orang-orang yang sedang kesal. Dia memvalidasi perasaan mereka dengan berempati terhadap yang mereka rasakan. Alih-alih meredam emosi mereka dengan berkata, “Sudah, jangan marah-marah,” dia menunjukkan pengertian dengan berkata, “Aku juga kesal.”
Anda mungkin berpikir, “Bukankah marah itu dosa?” Tidak, tidak selalu. Kadang kemarahan adalah ekspresi kasih. Jika Anda menyakiti seseorang di keluarga saya dan saya apatis, bukannya marah, maka itu menunjukkan bahwa saya tidak mencintai keluarga saya.
Dalam Kitab Suci, Allah membedakan antara kemarahan yang benar dengan kemarahan yang tidak benar, kemarahan yang benar dan kemarahan yang buruk.
Efesus 4:26 berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.
Bahkan Yesus marah ketika para pemimpin tidak membantu orang-orang yang membutuhkan.
Markus 3:5 mengatakan bahwa Yesus memandang mereka dengan amarah dan “berdukacita karena kedegilan mereka.”
Apakah Anda merasa sangat terganggu saat melihat orang-orang diperlakukan tidak baik? Jika Anda ingin dihormati, jadilah seperti Nehemia dan seperti Yesus. Berempatilah dengan perasaan orang lain. Anda tak harus setuju dengan mereka, tetapi jika Anda hendak mendengarkan perasaan mereka dengan empati, maka Anda akan mendapatkan rasa hormat mereka.
Renungkan hal ini:
- Pikirkan satu waktu ketika seseorang berempati dengan Anda. Bagaimana mereka meyakinkan Anda bahwa mereka benar-benar peduli?
- Apa reaksi pertama Anda terhadap konflik? Apakah Anda berusaha memahami semua yang dikatakan lawan Anda? Jika tidak, apa yang bisa Anda lakukan untuk membuat suatu perbedaan?
- Jenis ketidakadilan apa yang paling membangun rasa empati dalam diri Anda? Apa yang dapat Anda lakukan untuk membantu mengatasi ketidakadilan tersebut?
Bacaan Alkitab Setahun :
Nahum 2; Yakobus 3-5
Empati adalah bukti nyata dari kasih.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional